Puluhan Anak di Bombana Menderita Stunting

  • Bagikan
Kepala Dinas Kesehatan Bombana, dr Sunandar. (Foto: Jusniati/SULTRAKINI.COM)
Kepala Dinas Kesehatan Bombana, dr Sunandar. (Foto: Jusniati/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: BOMBANA – Stunting atau kekurangan gizi kronis karena asupan gizi kurang, salah satu masalah di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Dinas Kesehatan setempat mendata 2016-2019, sebanyak 88 anak menderita stunting atau 0,41 persen dari 55.190 anak di wilayah itu.

Meski jumlahnya belum signifikan, Pemerintah Daerah Bombana melalui Dinas Kesehatan melakukan upaya-upaya pencegahan stunting. Sebab, jumlah penderitanya itu tersebar merata di 22 kecamatan.

“Data 2016-2019, (Stunting) tersebar di 22 kecamatan atau wilayah puskesmas dari total keseluruhan anak 55.190,” terang Kepala Dinas Kesehatan Bombana, dr Sunandar kepada Sultrakini.com, Senin (13/5/2019).

Upaya mencegah tingginya stunting, yakni program pemberian gizi tambahan berupa susu di 22 puskesmas di Bombana dan mengontrol kesehatan ibu hamil di posyandu/puskesmas secara gratis atau didatangi oleh pihak puskesmas di rumah si ibu. Termasuk memberikan pelayanan kepada ibu hamil.

Sedikitnya tiga poin besar penyebab stunting. Pertama, kurangnya konsumsi makanan bergizi pada ibu hamil yang berdampak pada kondisi gizi si bayi. Kondisi ini diperparah, saat lahir, anak tidak mendapatkan ASI eksklusif dalam jumlah cukup, serta gisi seimbang ada usia 6 bulan ke atas.

Kedua, anak kurang diberikan asupan makanan pelengkap dan kurang nutrisi penting di samping asupan kalori murni. Ketiga, faktor kebersihan lingkungan juga mempengaruhi sebaran stunting. Anak-anak cenderung terpapar lingkungan tidak sehat yang memicu sumber penyakit. (Doktersehat.com)

“Hasil penelitian stunting, 75 persen berada di daerah sanitasi di lingkungan jelek, lingkungan-lingkungan kumuh, sekitaran 70 persen penderita stunting berada di lingkungan yang sanitasi jelek, seperti tidak mempunyai jambak dan sumber air bersihnya ,lingkunganya kotor, itu bisa mengakibatkan stunting,” tambahnya.

Baca:   'Migrasi' ke Kartu Kusuka, Kepemilikan Kartu Nelayan Meningkat

Laporan: Jusniati
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan