Jangan Panik Hadapi Virus Corona, Tapi Waspadalah

Oleh Sri Damayanty, SKM., M.Kes (Dosen Ilmu Kesehatan Lingkungan pada Institut Teknologi dan Kesehatan Avicena Kendari)

VIRUS Corona. Bencana di awal tahun 2020. Menggegerkan dan meresahkan ummat sejagat. Marak pemberitaannya hampir menutupi kabar bencana banjir yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah di Indonesia. Menyilaukan kita dari kabar kisruh dunia perpolitikan Indonesia. Juga kabar konflik Israel-Palestina yang tak berkesudahan. Atau kabar perang Amerika – Iran yang memanas itu.

Bagaimana tidak, dalam kurun waktu singkat (sebulan), korban kasus yang menyerupai zombi itu sudah menyebar ke berbagai negara. Dua belas negara, selain China sebagai negara asal Corona, telah melaporkan ikut “terjangkiti” adalah Jepang, Prancis, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Nepal, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Taiwan, dan Vietnam (detik Health, 27 Januari 2020).

Pelaku dari bencana menggegerkan itu adalah virus corona tipe baru atau yang disigkat 2019-nCoV. Virus ini adalah virus protozoa korona baru yang ditemukan dalam tubuh manusia pada tahun 2019, berasal dari Wuhan, China. Gejala penyakit ini biasanya ditandai dengan kepanasan, kelelahan, batuk kering dan berlahan-lahan kesulitan bernafas, dalam kasus yang parah ditandai dengan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), syok septik, asidosis metabolik yang sulit diobati dan hemofilia. Virus tersebut sudah dinyatakan dapat menular dari orang ke orang, tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit yang disebabkannya.

Virus corona pertama kali teridentifikasi di Wuhan, China. Virus yang sejak Desember 2019 lalu menyerang warga China telah mencapai 2.300 kasus. Kasus ini telah menelan korban hingga 80 orang. Kematian akibat dugaan virus ini juga bahkan juga terjadi di luar China daratan, tepatnya di wilayah Macau dan Hong Kong.

Aneka informasi mengenai virus mematikan ini dengan mudah dan cepat dapat diakses melalui media. “Wabah Virus Corona, China Karantina 41 Juta Penduduk di 13 Kota” (Detiknews, 24/1/2020). “China Menutup Sejumlah Kota, Suplai Makanan di Toko-toko Mulai Menipis di Wuhan” (OborSultra.com). Ada juga yang memberitakan bahwa Virus Corona Disebut Konspirasi Senjata Biologis (Detik Health, 27/1/2020). Diperkuat oleh berita “Mantan Intelijen Israel: Virus Corona ‘Senjata Biologi’ Yang Bocor Dari Lab Penelitian Pertahanan Wuhan” (Republik Merdeka, 25/1/2020).

Ini tentu meresahkan, sebab menurut kabar bahwa di Wuhan terdapat laboratorium yang giatnya pada program senjata biologi rahasia China.

Kita mulai menengok negara kita, apakah masih aman dari invasi virus tersebut. Prabumulih Pos mengabarkan pertanggal 25 Januari 2020, di Rumah Sakit Jakarta terdapat 1 pasien terjangkit virus corona dan ditetapkan status siaga untuk masyarakt. Pasien tersebut dirawat di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso Jakata Utara jadi suspect atau diduga terjangkit virus. Meski demikian, kita tidak perlu panik, sebab pihak RS tengah melakukan oservasi lebih lanjut.

Pada 27 Januari 2020, Detik Health juga mengabarkan adanya 2 orang pasien Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang ‘Dicurigai’ Virus Corona. Keduanya masih dalam observasi tim dokter infeksi khusus.

Meski kasus-kasus tersebut masih dalam tahap kecurigaan dan observasi lanjut, ini cukup menjadi alasan untuk kita waspada.

Namun, diantara berita mengkhawatirkan tersebut, ada pula berita yang sedikit saja melegakan. “Satu Pasien Virus Corona di Wuhan Diklaim Sembuh” (Detik Health, 27/1/2020). Hal ini tentu dapat menjadi rujukan bahwa ada harapan kesembuhan dari prosedur penanganan kasus, meski sebelumnya dikabarkan bahwa tidak ada vaksin untuk virus tersebut. Rupanya “Nelfinavir” yang dicobakan ke pasien yang sembuh itu.

Nelfinavir adalah obat yang biasa digunakan bersama dengan obat lainnya untuk mengobati infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Obat ini berfungsi untuk mengurangi jumlah virus di dalam darah dan menurunkan risiko penularan ke orang lain.

Ditambah pula kabar melalui Kompas.com, pertanggal 27/1/2020 bahwa Kementerian Luar Negeri memastikan 243 WNI di Wuhan tidak terinfeksi Virus Corona. Sebanyak 243 WNI di Wuhan didominasi oleh mahasiswa, yang tersebar di Wuhan, Xianning, Jhingzou, Shuang Xi, Xiangyang, dan Xian.

Semoga saja betul-betul aman. Masalahnya adalah Virus Corona memiliki masa inkubasi 14 hari. Ahli penyakit tropik infeksi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Adityo Susilo, SpPD-KPTI menyampaikan bahwa seseorang yang mengalami masa inkubasi akan mudah lolos dari pengecekan Thermal Scanner. Gejala pertama yang timbul pada pasien yang terinfeksi Virus Corona umumnya terjadi setelah masa 14 hari tersebut (Detik Health, 27/1/2020).

Kampus

Jika kita bernostalgia pada beberapa kejadian sebelumnya, dapat kita lihat sebuah pola kejadian penyakit yang menarik. Menarik untuk ditelusuri. Tahun 1997, Virus H5N1 (Flu Burung) pertama kali terdeteksi pada angsa dan bermutasi ke manusia dari unggas yang terinfeksi. Kejadian ini bermula dari negeri China.

Kemudian muncul Epidemi SARS tahun 2002 yang disebabkan oleh kebiasaan orang China memakan musang. Dan kali ini, akhir 2019 terlaporkan kasus yang terinveksi Virus Corona. Diduga kuat berasal dari kelelawar.

Pola yang sama kita temukan, yakni virus yang berasal dari hewan. Hal ini diperkuat oleh Konsultan Infeksi RS Dr. Soetomo, Dr. dr. Dominicus Husada SpA.K, bahwa kebiasaan makan di China yang tak lazim, seperti memakan kelelawar menjadi faktor risiko kehadiran virus tersebut. Dugaan sementara Virus Corona di Wuhan berasal dari Kelelawar, dimana selama ini virus-virus yang tidak dikenal termasuk Virus Corona bersumber dari kelelawar (Kompas.com, 24/1/2020).

Kabarnya di Wuhan terdapat Pasar Makanan Laut Huanan yang menjual berbagai hewan dan unggas hidup, mulai dari rubah, musang, serigala, kepiting, udang, kura-kura, ular, tikus, landak, burung, ular, katak dan satwa liar lainnya.

Oleh sebagian masyarakat Indonesia meyakini bahwa memakan kelelawar dapat memberikan faedah bagi kesehatan tubuh. Sebenarnya dalam Islam, mengenai konsumsi kelelawar telah banyak ditafsirkan melalui beberapa ayat Al Qur’an. Ada yang mengharamkan ada pula yang membolehkan dalam keadaan darurat sebagai pengobatan.

Kembali ke soal pola memakan daging warga China, yang gemar memakan daging mentah. Bukan hanya kelelawar melainkan hewan lainnya seperti yang dijual di Pasar Makanan Laut Huanan. Konsumsi berbagai jenis hewan inilah berpotensi menghadirkan virus-virus baru. Ditambah pola hidup virus yang terus bermutasi, sehingga menyebabkan kesulitan dalam mengantisipasi dan menghadapi kasus-kasus baru.

Padahal dari kaca mata kesehatan, pengolahan makanan menjadi aspek penting bagi kesehatan. Makanan harus diolah dengan benar, dan dengan tingkat kematangan yang dipastikan aman masuk ke dalam lambung untuk kemudian dimetabolisme oleh tubuh.

Jadi, pola konsumsi menjadi point penting dalam upaya mencegah hadirnya virus baru. Berikutnya adalah upaya pencegahan dari invasi virus oleh manusia ke manusia lainnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah cara sederhana yang sehari-hari harus kita budayakan. Memasak daging hingga matang, termasuk menghindari makanan yang tidak lazim, rutin mencuci tangan dengan sabun, menutup mulut saat bersin dan batuk, senantiasa menggunakan masker, penuhi kebutuhan gizi, rutin berolahraga serta istirahat yang cukup.

Hal sederhana tersebut, jika dibudayakan maka akan membentengi tubuh tidak hanya oleh virus melainkan masalah kesehatan lainnya.

Hal terakhir yang juga penting adalah peran serta pemerintah dalam hal regulasi. Misalnya regulasi mengenai antisipasi penyebaran Virus Corona yang sedang hangat-hangatnya.

Saya sangat sepakat dengan PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali yang menyetop penerimaan TKA asal China guna mencegah potensi penularan virus tersebut. Semoga upaya ini diikuti oleh seluruh perusahaan yang mempekerjakan TKA asal China di Sulawesi Tenggara.

Hal itu merupakan regulasi nyata dan efektif. Bila perlu kita meniru Filipina, yang memulangkan 500 Turis Asal China. Nah kalo Sultra berarti memulangkan TKA Asal China, heheheheh “Is it possible or Impossible?”, saya sedang bercanda.

Tapi kembali lagi ke regulasi pemerintah, sebab perkara kesehatan itu bukan tanggungjawab individu, melainkan tanggungjawab semua. Sehat itu memang murah, tetapi mahal jika sudah terkena sakitnya. Bahkan nyawa taruhannya. Intinya jangan panik, melainkan waspada, dan sama-sama mencegah dalam berbagai upaya guna menghindari penyebaran Virus Corona. Semoga kita semua dalam lindungan-Nya, Amin.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.