SUARA

Menyorot Tayangan Romantis

Serta Bahayanya Untuk Remaja

Oleh:Siti Maisaroh, S.Pd (Penulis Buku Motifasi Remaja ‘MERDU’)

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)memberikan teguran tertulis kepada sinetron Siapa Takut Jatuh Cinta pada Rabu(6/12) lalu. Penyebabnya karena salah satu adegan yang ditampilkan NatashaWilona (Laras) dan Varrell Bramasta (Vino) yang nyaris berciuman dalam episodeyang tayang pada Senin (27/11). KPI Pusat menilai tayangan tersebut tidak layakditampilkan, terutama pada khalayak remaja. Adegan tersebut telah melanggarsejumlah pasal Pedoman Prilaku Penyiaran KPI Tahun 2012 dan Standar ProgramSiaran KPI Tahun 2012. Karena itu pihak KPI menjatuhkan sanksi kepada siarantersebut.

“Berdasarkan pelanggaran tersebut,KPI Pusat memberikan sanksi administratif teguran tertulis. Saudara wajibmenjadikan P3 dan SPS KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam penayangansebuah program siaran.” Demikian tegas pihak KPI. (Sumber: suara.com, Senin, 25Desember 2017).

Tayangan romantis memang tumbuhsubur dimedia pertelevisian Indonesia. Demikian karena memang sesuai permintaanpasar, dimana 60 % dari penduduk negeri ini adalah generasi muda. Tegurantertulis yang diberikan oleh pihak KPI memang sesuai dengan harapan bangsa ini,yakni mencetak generasi yang berkarakter. Tetapi mampukah KPI mengatur derasnyatayangan-tayangan tak senonoh yang semua itu terjadi karena diberikan peluangoleh system Negara ini, yakni Kapitalisme. Tentu tidak.

yamaha

DimanaKapitalisme adalah suatu paham yang mengesampingkan norma-norma agama, segalacara dilakukan dengan bebas asal memberikan manfaat atau keuntungan. Berbicarakeuntungan, tentu yang mendapatkan keuntungan adalah para pengusaha (pemodal).Sedangkan generasi Muslim adalah korban dari semua ini.

Remaja, adalah usia dimana seorangmanusia belum punya pendirian yang jelas. Pola pikir dan pola sikapnyaberkembang dimanis sesuai dengan factor lingkungannya. Apa yang mereka lihat,mereka dengar, sampai mereka rasakan menjadi sumber mereka dalam bertindaksesuatu. Jika, tayangan romantic terus tampil bebas di TV, otomatis remaja akanmenganggapnya sebagai hal biasa, pergaulan anak muda yakni pacaran dengan gayaberbagai rupa.

VirusSekularisme juga dengan mudahnya menyerang akidah remaja Muslim dinegeri ini.Jika dilihat sekilas, memang tak ada yang salah dengan tayangan itu. Menghibur,sesuai selera remaja. Tapi, jika kita melihatnya dengan kaca mata akidah Islamyang standar baik buruknya dari bagaimana Islam mengatur, tentu tayangan ituterkategori tidak Islami (merusak akidah).

Sebagaipenulis yang mencoba fokus pada pemerhatian remaja, penulis menaruh kecemasanyang sangat pada pengaruh yang ditimbulkan dari tayangan romantic itu. Penulismenganggap ini adalah kampanye paham Sekular dimana memisahkan agama darikehidupan (agenda para musuh Islam). Seakan-akan Islam tidak mengaturpergaulan. Kita mungkin merasa aman-aman saja, karena generasi kita jauh dariteror atau ancaman senjata. Tapi kita tidak sadar, kalau dirumah kita sendiri,bahkan kita sangat percaya padanya (TV) untuk menemani jam istirahat mereka,padahal dari ‘kotak ajaib’ itulah sumber malapetaka. Adegan yang tidak layakditonton, adegan yang sama sekali tidak peduli pada norma, ahlak dan etikadipertunjukan pada mata-mata polos generasi kita.

Untuk semua pihak; orang tua,masyarakat, juga Negara, ini adalah masalah serius. Butuh kerja sama semuapihak. Tak cukup jika hanya KPI yang bertindak, atau orang tua yang inginmencetak anak-anak yang sholeh dan sholehah. Peranan utama adalah dari negera,karena Negara lewat tangan pemerintahlah yang bisa membuat aturan untukdijalankan pihak penyiaran. Namun ini sangat tidak mungkin jika kita berharappada system yang tengah dipertahankan dinegeri ini (Kapitalis-Sekular) yanghanya memfokuskan pada asas manfaat. Manfaat yang dinikmati oleh mereka yangberambisi memisahkan aturan Islam dari kehidupan kaum Muslim.

Penjagaan kepribadianatau identitas remaja Muslim harus diselamatkan oleh Negara yang peduli. HanyaKhilafah yang menerapkan aturan Islam secara sempurna. Dimana ‘tindak tanduk’media dalam menyajikan tayangan akan terkendalikan. Karena media punya tugasutama yakni mengoreksi penguasa. Media dalam pemerintahan khilafah juga hanyadiizinkan untuk memberikan tayangan yang mendidik khususnya para generasi.Tayangan yang menjaga nilai-nilai Islam. Karena mereka yang memusuhi Islamselalu membuat tipu daya untuk menghancurkan generasi kaum Muslim. Olehnya,kembalikanlah semua aturan pada Allah. “Dan Allah lebih mengetahui (daripadakamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dancukuplah Allah menjadi penolong bagimu. (An Nisa’: 45). Waallahu a’lamubishowab. 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.