Iklan Clarion

Catatan (1): Merasakan Sensasi Foto dengan Presiden

SULTRakini.Com: Inilah foto saya bersama orang nomor satu di negeri ini saya posting di laman akun facebook malam ini. Saya perlu menambahkan keterangan dan penjelasan pada foto yang diabadikan oleh salah satu anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) saat Kongres Nasional Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia di Jakarta-Bogor. Saya hadir di kegiatan itu sebagai guru dan pengiat literasi dan minat baca dari Kolaka. Meski kawan saya Alois Wisnuhardana menulisnya dari Sulawesi Tenggara.

Kongres itu, setidaknya diikuti sekitar 800 guru Bahasa dan Sastra Indonesia dari Aceh-Papua yang berlangsung di dua lokasi Jakarta-Bogor sejak tanggal 8-11 Oktober 2018.Saya bisa hadir di arena kongres kemudian bisa berdiri berdampingan dengan Presiden Jokowi lalu saya menyerahkan handphone berkamera ke paspampres untuk mengabadikan moment penting itu adalah sesuatu yang dianggap kebetulan belaka sekaligus keberuntungan lagi berpihak kepada saya yang tak pernah membayangkan bisa bertemu dan berjabat tangan erat dengan mantan Walikota Solo itu.

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

Bagi orang seperti saya yang hanya guru biasa di SMA Negeri 1 Latambaga,Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan pangkat dan golongan rendah.Tentu saya merasa tidak perlu bermimpi bisa bertemu dengan orang penting dan dikagumi banyak orang, tak hanya di Indonesia tapi di luar negeri sosok presiden kita ini, yang selalu tampil sederhana itu juga dikagumi. Yang pasti semua orang tahu bahwa untuk berjabat tangan dengan Presiden itu, terlebih dahulu harus melalui protokoler dan pengamanan yang super ketat.

Kecuali anda seorang pejabat di lingkungan istana atau menteri. Begitulah aturannya dan berlaku di negara manapun di dunia.

Di hari Rabu,10/10 saya bisa bertemu dan berjabat tangan dengan Pak Jokowi setelah melalui pemeriksaan yang begitu ketat untuk bisa masuk di ruangan tempat kegiatan berlangsung.Semua peserta diperiksa satu persatu dan tak satupun barang yang ada didalam tas lolos dari pemeriksaan. Saat itu saya sempat tertahan karena membawa korek gas untuk merokok. Setelah korek gas saya serahkan ke pihak petugas yang memeriksa,barulah saya diperkenangkan masuk ke ruangan yang juga dihadiri ratusan pelajar terbaik SLTA Se-Indonesia.
Acara berjalan sangat meriah,penuh tepuk dan sorak-sorak ratusan guru dan pelajar yang diawali dengan sambutan Menteri Pendidikan Nasional disusul Pidato Presiden Jokowi.Saya tidak terlalu fokus pada isi pidato dan sambutan keduanya,meskipun saya tetap menangkap subtansi dan pesan yang disampaikan.

Presiden berharap kepada semua peserta agar menjaga persatuan dan kesatuan,selain itu dia menyampaikan bahwa pelajar Indonesia harus bisa mengikuti kemajuan teknologi informasi dan lebih kreatif, inovatif agar bisa bersaing dengan pelajar dari negara lain.Tak ada pidato politik yang terlontar dalam pertemuan tersebut.

Sesaat sebelum acara dimulai,saya tak langsung menempati tempat duduk yang disediakan panitia.Saya berjalan mendekati serombongan pekerja media yang lagi mengatur letak dudukan tripod kamera yang akan digunakan mengambil gambar. Ada satu orang yang saya ajak bicara dan ternyata dia bekerja di media Kompas Online, untuk deks liputan pendidikan, saat itu kami berdua saling bertukar nomor telepon gengam.

Tak begitu lama kami bercerita karena pemandu acara sudah memberi tanda bahwa acara segera dimulai dan Presiden akan memasuki ruangan. Saya bergerak ke kursi paling belakang dekat dari pintu.utama. Sembari berjalan pelan saya memperhatikan lalu-lalang staf protokoler dan paspampres yang sibuk memastikan susunan dan durasi acara berjalan sesuai dengan rencana.

Sebelum bertemu dengan Pak Jokowi itu, saya dan rombongan guru pengiat literasi harus bergegas dari hotel di bilangan Kemayoran, Jakarta Pusat pukul 04.00, masih subuh saat itu. Lima bus panjang mengantar rombongan kami ke Bogor. Sebenarnya saya dan kawan Abdullah Taba tidak mengetahui jika ada undangan untuk bertemu dengan Pak Jokowi karena saat acara malam itu masih berlangsung di aula hotel saya berdua sudah lebih duluan ke kamar di lantai 15 untuk istirahat karena mengantuk seharian dijejali dengan materi soal pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Beruntunglah kawan saya guru dari SMKN 1 Wundulako yang mengikuti acara hingga selesai kemudian di saat kami berdua masih tertidur pulas dia menelpon berkali-kali ke hp teman saya. Mendengar dering telepon berkali-kali,saya berdua terbangun dan membuka pintu kamar karena kawan saya itu rupanya juga sudah berdiri didepan pintu yang diketuk berkali-kali pula.

Tanpa harus mandi, hanya mencuci muka saja saya berpakaian seadanya lalu bergegas turun ke halaman parkiran hotel menuju bus panjang siap berangkat.

Di dalam perjalanan saya menyempatkan menulis di akun Instagramku.Begitulah cara saya membunuh kejenuhan di perjalanan dari Jakarta-Bogor yang masih gelap dan sepi dari lalu lalang kendaraan.

Judul tulisanku Bertemu Jokowi,padahal aku belum bertemu dengan presiden. Saat menulis judul itu saya diliputi perasaan cemas dalam hati, jangan sampai saya tidak bertemu dengan Pak Jokowi maka postingan saya di Instagram dan Facebook dianggap hoax oleh kawan-kawan saya terutama Elda Tambunan yang langsung berkomentar dengan nada meragukan kalau saya bertemu dengan Jokowi di Istana Bogor.

Dari komentar yang bernada ragu itulah saya seperti dipaksa untuk menggunakan kembali naluri jurnalistik yang pernah aku geluti sekian puluh tahun sebagai wartawan di kampus dan wartawan di sebuah harian terbesar di Sulawesi Tenggara.Trik dan keberanian berhadapan dengan pejabat sekelas menteri,gubernur sejatinya sudah biasa saya lakukan untuk keperluan wawancara.

Berkawan dengan pejabat didaerah di zaman itu sudah cukuplah bagiku.Kali ini saya sepertinya harus memastikan apakah nyali dan pengalamanku sebagai wartawan masih dapat membantu untuk bisa bertemu dengan orang yang dijaga super ketat. Alhasil saya bisa membuktikan bahwa saya bisa bertemu Pak Jokowi di tengah acara yang cukup padat dihadiri orang dari berbagai daerah di Indonesia.

Saya tidak berswafoto atau selfie sebagaimana layaknya orang memotret dirinya sendiri. Tetapi saya difoto oleh paspampres.Tentunya saya merasakan sensasinya berbeda. Meskipun ada pemandangan yang tak biasa, karena kancing baju yang saya kenakan terbuka dibagian dada,hal itu bukan disengaja.Kancing baju saya terbuka karena berdesakan di tengah kerumunan orang yang mau berselfie dengan Pak Jokowi.

Saya pun baru tahu setelah kawan saya memposting foto saya bersama Pak Jokowi di akun facebooknya dan mendapat tanggapan yang beragam soal foto saya dengan Pak Jokowi. Saya pun terseyum bercampur malu melihat penampilan saya seperti itu. Tapi tak apalah, toh Pak Presiden dan Paspampres tidak mempersoalkannya dan tak mungkin lagi bisa diulang bertemu dan berjabat tangan seperti itu dengan Pak Jokowi yang masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

 

Watuliandu,15/10/2018

Cetizen: Ridwan Dematadju (guru SMA 1 Latambaga, Kolaka

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.