Oleh: Gugus Suryaman
Segel Rusak, Hak yang Terkorupsi
Tutup botol air mineral kemasan yang rusak saat pembelian. (Foto: Gugus Suryaman/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: Saya pikir, hanya di wilayah padat penduduk yang punya praktik curang. Alasan tingginya permintaan ditambah rusaknya moral oknum pebisnis dalam mencari untung, bercampur misi kotor para perusak generasi, segala cara dihalalkan.

Rupa-rupanya di daerah ini, penyakit moral itu juga menjangkit. Oknum pebisnis yang tak lagi memperdulikan kualitas dan kepercayaan konsumen merajalela. Barang, makanan, atau apapun itu, tidak ada urusan "produk ini dikonsumsi siapa". Apalagi takut kepada Tuhan. Yang penting laba, sikat saja.

Baru saja, tadi malam tepatnya, kami bertukar informasi di meja redaksi. Ada kawan, yang punya rekan kuliah meneliti sayuran dari sejumlah pasar di Kota Kendari. Peneliti ini memberi makan ulat percobaannya dengan sayur tersebut. Hasilnya, hama sayur itu mati tergeletak. Kata dia, terlalu tinggi pestisidanya.

Tidak semua memang. Tidak bisa juga serta merta kita sebut itu praktik curang. Tapi itu hampir sama dengan bahaya rokok, polusi udara, limbah pencemaran atau makan mie instan tiap hari. Efek jangka pendeknya, kira-kira mirip makan Mangga Hiku satu keranjang.

Kemarin, di rumah, saya minta digorengkan ikan kering buat lauk. Ikannya Ruma-ruma. Saya pikir enak nih sore-sore makan nasi, sayur bening hangat, sambal colo-colo dan ikan kering. Ternyata, itu ikan layu/rusak yang dikeringkan. Rasanya benar-benar basi, cenderung pahit. Dan merusak selera makan.

Hal serupa pernah disampaikan salah satu editor kami, Sarini Ido, dia pernah menelusuri dan menemukan oknum pembuat Siomay curang. Ikan yang tidak laku di pasar, sudah layu, bahkan tidak layak konsumsi, digiling jadi bahan Siomay Ikan. Ditemukannya itu di Kendari. Benar-benar membuat dia selektif (kalau belum kapok) makan Siomay.

Ada lagi, Hypermart berkali-kali ketahuan menjual produk kadaluarsa. Bukan lagi kelalaian kalau sudah terulang lebih dari tiga kali. Ini namanya kepala batu. Badan POM sudah mengeluarkan peringatan keras bahkan rekomendasi menghentikan sementara operasional supermarket tersebut. Tapi lagi-lagi, pemerintah tepatnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengabaikan. Mungkin mereka tidak takut keracunan.

Pernah mengisi BBM di SPBU berbeda dengan nominal harga yang sama tapi isi tak sama? Perhatikan, ada yang tidak beres di sana. Bisa jadi mesinnya yang harus di-tera ulang, atau oknum petugasnya yang tidak paham makna dibalik senyum "mulai dari nol ya pak".

Madu campur, BBM oplosan, buah busuk, cor beton atau aspal jalanan komplek rumah kita pun tak seumur minggu sudah retak. Sampai servis elektronik pun dicurangkan.

Hati-hati, budaya "kalasi" di negeri ini sudah mewabah. Hak-hak konsumen telah dikorupsi. Nurani tak lagi jadi standar hidup. Kita berada di jaman now yang kebablasan.

Hari ini, di Bandara Haluoleo Kendari, saya benar-benar terkejut. Dalam Bandara yang super ketat masuknya itu, di samping ruang tunggu keberangkatan, ada botol air mineral yang sudah rusak segelnya. Secara tak sengaja, kecurangan itu ada di tangan saya.

Ceritanya, boarding sudah mulai. Dari toilet saya singgah beli Akua (bahasa sehari-harinya), untuk minum di pesawat. Karena saya tahu, Airline merah itu, Lion Air, susah menyediakan minuman bagi penumpangnya. Tadinya mau ambil yang kecil saja, supaya simpel. Harganya Rp8 ribu, kata ibu penjualnya, yang tengah harganya Rp10 ribu. Ah, mending sekalian saja yang tengah kalo begitu, pikirku. Kalau di luar sana harganya Rp4 ribu.

Nah, karena buru-buru, nanti di tempat duduk pesawat baru buka. Mau minum rencananya. Eh, tutupnya terbuka. Segel plastik tidak ada, tutupnya diputar juga masih keras, belum terpisah. Tapi bagian atasnya, sudah dilubangi sepertinya pakai silet seluas setengah lingkaran. Kebetulan secara tak sengaja pinggang botol terjepit, airnya langsung keluar dari tutup. Maka mengangalah lubangnya.

Otak saya bereaksi, dua hal yang dikhawatirkan. Satu, airnya bukan lagi dari pegunungan yang diisi oleh pabrik PT. Tirta Investama (Danone Indonesia). Ke dua, air ini sudah bercampur sesuatu entah apa itu. Atau bisa jadi, kedua-duanya ada di dalam botol ini. Yang pasti, bukan air Zamzam. Akhirnya saya tidak jadi minum.

Su'udzon iya. Sejak dulu saya selalu waspada. Mengutip ocehan Tante Besse, "kan curiga bisa". Saya tidak menuduh. Itu tugas yang berwenang membuktikan sekaligus bertanggungjawab melindungi konsumen dan warga negeri ini dari apapun yang merusak masa depan Indonesia.

Juga membuktikan, bahwa pajak yang kita bayarkan memang untuk membayar jerih para aparatur yang berupaya melindungi segenap bangsa Indonesia. Bukan menggaji cuma-cuma oknum pegawai dan aparat yang membiarkan anak-anak negeri menderita oleh perbuatan amoral para perusak.

Sambil menulis ini, sesekali saya menoleh sekeliling melihat orang-orang asing berbahasa dan bodi mirip Jackie Chan. Tidak ada hubungannya memang dengan botol Aqua yang berlubang tutupnya itu, saya hanya ingat satu film pendaki gunung, "127 Hours", yang dalam satu adegan menyinggung alat dari China tak berkualitas. Akankah negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini tak akan memperdulikan kualitas produk? Kita semua bertanggungjawab.


Lion Air JT 0729 KDI-CGK

13 Desember 2017


gusuryaman@gmail.com

082193831212

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations