Ulama Dijadikan Gulali Pilpres

Mendambakan pemimpin yang sholeh, taat dan paham akan Islam. Itulah kenyataan yang menimpa jiwa rakyat di negara mayoritas kaum muslim hari ini. Hal tersebut terjadi karena telah massifnya opini umum ditengah-tengah umat, bahwa sosok pemimpin sejati haruslah ia yang dekat dengan Allah swt. Memiliki segudang ilmu Islam serta memiliki gelar ulama. Sehingga, dampak dari keinginan tak terbendungi dari umat membuat pilpres kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Ya, publik sempat dihebohkan dengan dicanangkannya UAS (Ustadz Abdul Somad) sebagai cawapres, mendampingi Prabowo untuk maju dipilpres mendatang. Tentu, UAS adalah sosok ideal bagi umat karena ceramahnya yang cukup memukau dan mampu menyihir jamaahnya untuk bersegera melakukan kebaikan. Namun sayangnya, UAS lebih memilih untuk menjadi seorang pengemban dakwah saja sampai ajalnya menjemput. Sehingga cita-cita untuk menjadikan UAS sebagai cawaprespun kandas.

Kemudian berita yang tak kalah menghebohkannya ialah,mh diumumkannya Prof Dr. KH Ma’ruf Amin sebagai soulmate di kubu Jokowi. Ialah salah satu ulama panutan umat yang menjabat sebagai ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) itu.

“Ma’ruf Amin, lahir di 11 Maret 1943, adalamk,u  h sosok tokoh agama yang kbijaksana. Beliau duduk di legislatif sebagai anggota DPRD, DPR RI, MPR RI, Wantimpres, Rais Aam NU, dan Ketua MUI, Majelis Ulama Indonesia,” kata Jokowi di Plataran Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (9/8/2018). DetikNews (09/08/2018)

Tentu, ada deretan pertanyaan yang menggelitik nalar ketika mendapati aura pilpres 2019 yang tak seperti biasanya ini. Apakah hadirnya ulama sebagai sosok pemimpin bangsa akan membuat negeri yang telah porakporanda dengan segunung permasalahan ini, bisa kembali rapi, aman dan sejahtera seperti yang diimpikan oleh umat?

Bukan tanpa alasan, mengapa partai-partai Islam maupun partai nasional mengusung ulama sebagai cawapresnya. Alasan utama yang terindera ialah karena ingin menjaring suara umat Islam yang telah bosan dan muak menelan pil kekecewaan setiap kali memilih pemimpin. Apalagi akhir-akhir ini, keinginan umat Islam akan tegaknya syariat Allah begitu tinggi. Bahkan hasil survey LSI (Lembaga Survey Indonesia) mengungkapkan bahwa jika dikalkulasi, penurunan masyarakat yang menghendaki Indonesia berdasarkan Pancasila itu mengalami penurunan sampai dengan 10 persen. Sebaliknya, masyarakat yang menghendaki Indonesia berdasarkan NKRI bersyariah. NKRI yang diatur oleh aturan Islam dalam bidang politik dan hukumnya terus mengalami kenaikan di periode yang sama. (m.detik.com, 17/07/2018). Sehingga, menggandeng ulama adalah cara yang dianggap jitu untuk mewujudkan impian umat tersebut.

yamaha

Padahal, sebenarnya mencanangkan cawapres dari ahli agama dan ulama ini juga sudah pernah dilakukan sebelumnya. Lihatlah Jusuf Kalla, satu-satunya orang yang dua kali memperoleh kursi sebagai wapres di negeri ini. Ia adalah seorang yang juga agamis. Ketua mesjid se Indonesia, namun pada faktanya belum bisa memerdekakan suara umat Islam. Buktinya, teror kian hari kian menjadi. Umat Islam makin tersudutkan. Ajaran Islam dikriminalisasi. Sehingga, suara umat Islam yang menginginkan kebangkitan seolah utopis untuk terakomodir.

Belum lagi, menghadirkan ulama dalam pilpres ini merupakan salah satu upaya untuk menekan kebangkitan Islam yang sebenarnya. Islam kaffah( menyeluruh) yang mana penerapan syariat Islam secara keseluruhan dalam seluruh aspek kehidupan, sebagaimana yang telah membooming dewasa ini. Apalagi Barat menyadari bahwa akhir-akhir ini terjadi peningkatan yang begitu anjlok tentang keinginan umat untuk menjadikan aturan Islam sebagai alternatif satu-satunya dalam mengatur kemaslahatan mereka. Sehingga, menghadirkan ulama dalam pilpres adalah cara yang jitu untuk meredam keinginan umat tersebut. Isla moderat akan tetap eksis dan tidak akan terusik oleh ide Islam kaffah dalam bingkai daulahKhilafah Islamiyah yang merupakan trandingtopic saat ini.

Sistem Islam Sistem Unggul

Sesungguhnya kehadiran ulama sekalipun tidak akan mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik, jika sistem yang digunakan masihlah sistem kapitalisme sekularisme seperti yang berlaku saat ini. Ulama hanyalah menjadi gulali pilpres dan tidak mampu mengakomodir suara umat, karena kekuasaan masih berpijak diatas dasar yang keropos. Dasar yang memisahkan peran agama dari kehidupan (sekularisme) , serta menjadikan materialisme yang mana memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya sebagai tujuan hidup (kapitalisme). Karena akar permasalahannya bukan pada siapa yang memimpin, melainkan sistem apa yang diterapkan ketika memimpin.

Islam adalah agama yang memiliki seperangkat aturan dalam mengatur seluruh kehidupan. Tidak hanya dalam spritual agama saja seperti shalat, puasa, zakat, adab, akhlak dan lain-lain. Melainkan Islam juga mengatur dalam ranah politik, hukum dan pemerintahan. Hal ini telah terbukti dalam tinte emas peradaban yang telah terterapkan selama 1300 tahun. Disanalah suara unat Islam benar-benar terakomodir. Hak rakyat terpenuhi, tanpa pandang suku, agama dan ras. Tak ada diskriminalisasi ajaran Islam maupun persekusi pengemban dakwah. Sehingga, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hanya dengan mencampakkan sistem sekuler kapitalis, dan kemudian mengambil Islam sebagai sistem yang mengatur seluruh kehidupan, maka terciptalah sosok pemimpin terbaik yang bisa menerapkan seluruh aturan Allah, seperti yang diinginkan oleh umat hari ini. WallahuA’lam Bissawab

Oleh Fitriani S.Pd

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.