Omset Merosot Saat PPKM, PKL di Sekitar Tugu MTQ Terancam Gulung Tikar

  • Bagikan
Suasana Warteg Soto Lamongan di sekitar Tugu Religi Eks MTQ Kendari tampak sepi dari pengunjung, (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)
Suasana Warteg Soto Lamongan di sekitar Tugu Religi Eks MTQ Kendari tampak sepi dari pengunjung, (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Dampak PPKM skala mikro kini sangat dirasakan para Pedagang Kaki Lima (PKL) maupun perdagang makanan di sekitar pelataran tugu religi MTQ, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara

Kurangnya pengunjung atau pembeli kewarung-warung kecil itu rupanya menjadi pemicu penurunan pendapatan hingga 80 persen dari hari biasanya sebelum PPKM diterapkan. Bahkan penurunannya mencapai 90 persen disaat ini.

Salah satu Warteg di sekitar pelataran tugu religi Eks MTQ Kendari yaitu Soto Lamongan, perhari ini sejak pukul 00:00 Wita hingga 12:00 Wita belum ada pengujung yang mampir makan maupun membawa pergi atau memesan (Take Away).

Padahal, Warteg ini selalu buka 24 jam tidak perna tutup. Perharinya sangat beruntung jika dapat melayani tamu sekitar 3 orang, dibandingkan sebelum PPKM diberlakukan. Sebelumnya, pemilik Warteg sering menerima pesanan makanan dari berbagai istansi maupun masyarakat umum, namun dimasa sulit saat ini tidak lagi menerima orderan-orderan termasuk pelanggang yang take away tidak ada dan sangat jarang.

“Sudah 12 jam ini dari malam belum ada yang kami layani, PPKM ini sangat berimbas kepada kami, malahan pendapatan lebih rendah di banding awal Covid-19,” kata Bude, pemiliki Warteg Soto Lamongan kepada SultraKini.Com saat ditemui di warungnya, Kamis (29/7/2021).

Baca:   Rektor UHO Minta Alumni Bekerja Profesional dan Bertanggungjawab

Dari pantauan lapangan, di pelataran tugu religi MTQ tidak semua PKL Warteg maupun warung kopi (Warkop) membuka lapaknya disiang hari. Akan tetapi banyak aktifitas berdagang di lakukan pada malam hari mulai pukul 16.00 Wita dan ramai pengunjung jelang pukul 18:30 sampai 23:00 Wita.

Pemandangan berbeda pada masa PPKM ini, banyak lapak-lapak PKL tidak ada pengunjung sehingga mereka tidak melakukan aktifitas jual beli disebabkan modal yang dimiliki para PKL ini tidak mencukupi untuk berbelanja kebutuhan berjualan.

“Warung-warung yang lain disekitar MTQ ini akan buka di malam hari dan biasanya ramai pengunjung tapi akibat PPKM banyak warung yang tutup karena pembatasan jam operasional sampai jam 20.00 Wita dan tidak ada pengunjung,” ujar Bude.

Dihari-hari biasa dalam masa pandemi Covid-19 pemilik Warteg Soto Lamongan ini telah menaati semua protokol kesehatan seperti menggunakan masker saat berjualan.

Bude menjelaskan, pendapatan setiap hari dalam 24 jam itu sebelum PPKM sekitar Rp2 juta sampai Rp3 jutaan, namun pendapatan ini masih digunakan lagi untuk modal jualan membelanjakan kebutuhan yang diperlukan.

Kondisi lapak PKL di pelataran tugu religi Eks MTQ Kendari di sore hari, (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

Saat ini ditengah kondisi PPKM sangat beruntung jika dapat melayani beberapa pengunjung selama 24 jam dan dapat menerima laku sekitar Rp500 ribu.

Baca:   AJP Desak Pemprov Sultra Serius Perbaiki Jalan Poros Kendari-Motaha

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

“Laku segitu tidak ada untung, karena uangnya kita gunakan lagi berbelanja untuk jualan besoknya, kondisi seperti ini kami sangat membutuhkan bantuan agar kembali di longgarkan aktifitas masyarakat seperti biasa,” urainya

Pemilik Soto Lamongan ini mengaku hingga kini ia belum mendapatkan atau tersentuh sedikit pun bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat sebagai pelaku UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kalau bantuan saya tidak dapat,” akunya.

Senada dengan Bude, pemilik kedai BOT Ibu Sukma mengaku juga mengalami hal serupa. Bahkan kini ia telah merumahkan 10 orang karyawannya karena merosotnya pendapatan. 

Ia menceritakan, sebelum Covid-19 kedainya dapat mempekerjakan 13 orang karyawan hingga dimasa PPKM saat ini hanya menyisahkan 3 orang karyawan dengan gaji Rp1 juta perbulan tanpa bonus.

“Dulu saya gaji pokok karyawan itu Rp1,2 juta di tambahan bonus-bonus jadi bisa setiap karyawan itu dapat Rp2 jutaan setiap bulan. Mengingat saat ini pendapatan tiap malam itu hanya sekitar Rp300 ribu sampai Rp500 ribu,” terang Ibu Sukma.

Sesuai ajuran aturan PPKM pihaknya tidak menerima tamu diatas pukul 20.00 Wita kecuali take away akan dilayani.

Menurutnya, Covid-19 telah menyengsarakan ekonomi para PKL di pelataran MTQ. Kemudian diadakannya PPKM jadi sangat menambah beban para pedagang tersebut.

Baca:   Penertiban PKL di Terminal Wakatobi Protes, Ini Penjelasan Disperindag

“Pendapatan dimasa Covid-19 turun 50 persen, sekarang PPKM sisa 20 persen pendapatannya, dulukan kita bisa laku sampai Rp2 jutaan tiap malam,” ujarnya.

Ibu Sukma juga membeberkan bahwa hingga saat ini belum mendapatkan bantuan mengenai dampak Covid-19 dari daerah maupun pusat.

Dari pantauan SultraKini.Com, jajaran PKL dipelataran MTQ terlihat sunyi belum ada pelanggang yang nongkrong. (B)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Hasrul Tamrin

  • Bagikan