ALI MAZI PEMPROV

Pemprov Sultra dan Pemkot Baubau Ajukan Sultan Himayatuddin Calon Pahlawan Nasional

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Pemerintah Kota Bau-Bau bekerja keras mengupayakan pengusulan Sultan Himayatuddin Muhammad Saydi/Oputa Yi Koo/Lakarambau sebagai pahlawan nasional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan seminar nasional yang berlangsung di Universitas Halu Oleh (UHO) Kendari. Dengan pemateri Gubernur Sultra Ali Mazi, Rektor UHO Prof. Muhammad Zamrun, Wali Kota Baubau Dr. As Tamrin, Prof. Zimly AsShiddiqie dan Prof. Susanto Zuhdi. Turut hadir perwakilan DPD Dapil Sultra, Wakil Bupati Wakatobi, perwakikan Polda Sultra, Danlanal Kendari dan Korem 143 HO serta OPD, Senin (22/7/2019).

Dalam sambutannya, Muhammad Zamrun mengatakan seminar yang dilaksanakan merupakan wadah untuk membuka kembali salah satu kearifan lokal Sultra, serta meneladani salah satu tokoh Sultra.

“Kegiatan seperti ini yang kita harapkan dan saya tekankan kepada seluruh jajaran UHO, dosen dan mahasiswa. Kita punya banyak kearifan lokal yang bisa digali sama-sama, kita tidak akan pernah habis topik dan bahan untuk bisa mengekspresikan diri kita untuk mempromosikan budaya lokal Sultra,” tuturnya.

Lanjutnya, topik skripsi bagi mahasiswa, penelitian dosen maupun mahasiwa S2 serta S3 tidak akan pernah kekurangan topik penelitian, karena Sultra kaya kearifan lokal. Semuanya tergantung kejelian terhadap memahami wilayah di sekitar.

Sementara itu, As Tamrin dalam materinya mengatakan strategi perang gerilya serta semangat dan patriotik Sultran Himayatuddin dalam menjaga dan mempertahankan negaranya sangat monunental.

“Sultran Himayatuddin tidak pernah ada kompromi dengan belanda, dengan mengorbankan keluarga, harta bahkan nyawanya demi tegaknya dan eksisnya Kesultanan Buton. Sultran Himayatuddin sangat layak serta pantas menjadi Pahlawan Nasional di NKRI,” tuturnya.

Ali Mazi dalam materinya mengatakan, Pemprov Sultra dan Pemerintah Baubau membuat rekomendasi usulan kepala Menteri Sosial, kemudian menyampaikan surat kepada Presiden RI untuk permintaan khusus, karena selama 55 tahun Provinsi Sultra belum memiliki pahlawan nasional.

“Terdapat seorang putra daerah Sultra yaitu Sultran Himayatuddin Muhammad Saidi/Oputa yi Koo (1751-1776) yang telah melawan agresi, invasi dan imperialisme Belanda pada abad ke-18 selama hampir seperempat abad lamanya. Tiada bangsawan seorangpun di Buton yang dipilih sebagai sultan dua kali masa jabatan hanyalah Lakarambau/Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi yang merupakan Sultan Buton ke-20 dan 23. Anak dari La Umati yang merupaka Sultan Buton ke-13,” katanya.

Susanto Zuhdi dalam materinya menyampaikan, pahlawan adalah sosok yang merupakan personafikasi nilai yang dianut atau diteladani oleh masyarakatnya karena sikap dan tindakannya yang berani dalam membela kebenaran yang diperjuangkan meskipun dengan mengorbankan dirinya. Namanya diabadikan oleh masyarakat dalam berbagai bentuk atau media.

“Sultran Himayatuddin tidak sekedar primus inter pares atau the great man tetapi adalah event making man sehingga layak disebut hero (pahlawan). Artinya, orang yang sabar bertindak karena kemampuan intelektual, keberanian dan karakter yang istimewa untuk mengubah pola hubungan sekutu menjadi seteru dengan kompeni atau Belanda, ketika ketidakadilan dan penindasan sudah tak terperikan terhadap rakyat Buton. Bermula dari perompakan kapall VOC Rust dan Werk pada tahun 1752, Sultan tidak membantu VOC tetapi justru berada dibalik peristiwa sehingga Buton dihukum menyerahkan 1000 budak kepada VOC dan dilawan,” jelasnya.

Untuk diketahui, Sultran Himayatuddin lahir di Buton awal abad ke-18 Masehi dengan nama panggilan kecil La Karambau. Jabatan sebelum menjadi sultan yaitu, lakina Kambowa atau kepala wilayah Kadie (Komunitas desa), kapitalao Matana Eo (panglima kawasan timur 1717-1737), kenepulu (hakim) pada usia ke 50 tahun. Diberi gelar kesultanan yaitu Sultan Himayatuddin Ibnu Sultaani Liyaauddin Ismail Muhammad Saydi masa jabatan pertama 1751-1752 dan kedua pada 1760-1763. Sultran Himayatuddin wafat di gunung siontapina tahun 1776.

Laporan: La Niati
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.