Sekitar 80 Persen UMKM Terdampak Covid-19 di Sultra, 10 Persen Bangkrut

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor paling terdampak pandemi Covid-19. Padahal, sektor tersebut banyak menyerap tenaga kerja sekitar 97 persen dan kontribusinya terhadap produk domestik bruto nasional sekitar 60 persen.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Muhammad Yusuf, mengatakan 158.000 orang pelaku UMKM terdampar Covid-19 dari jumlah pelaku UMKM yang tercatat di Dinas Koperasi dan UMKM Sultra sebanyak 248.561 unit.

“Sekitar 80 persen pelaku UMKM di Sultra terdampak Covid-19 dan ada sekitar 10 persen pelaku UMKM mengalami kebangkrutan karena tidak ada pembeli,” ujar Muhammad Yusuf, Kamis (28/1/2021).

UMKM yang yang bangkrut dan tutup usahanya, yaitu dialami oleh pelaku UMKM seperti pedagang-pedagang kaki lima, warung-warung kecil yang berjualan di lokasi atau sekitaran kampus dan sekolah.

“Kampus dan sekolah diberhentikan tidak ada proses belajar mengajar jadi usaha-usaha warung makan itu dampaknya mereka sampai tutup karena pelaku usaha ini harapannya pembeli hanya berada dari situ,” kata Yusuf.

Kadis Koperasi dan UMKM berharap kepada pelaku-pelaku usaha tidak hanya memiliki satu tempat usaha saja. Tujuanya, agar pelaku usaha tersebut bisa beralih ke tempat yang lain jika selama pandemi menyebabkan turunnya omset.

“Kita mau ada alternatif lain, maksudnya buka usaha bukan hanya satu saja karena tidak ada pembeli di situ maka tidak harus menetap di tempat tersebut. Sekarang juga ada akses menggunakan digital, pelaku usaha bisa menjual produk melalui ayomibeli.com,” jelasnya.

Kantor Bulog Raha

Melalui aplikasi digital ayomibeli.com, Dinas Koperaai dan UMKM Sultra mendukung dengan mensosialisasikan penggunaannya agar pelaku UMKM bisa mempromosikan produknya ke konsumen.

Yusuf sampaikan, digitalisas merupakan jalan keluar untuk membangkitkan kembali gairah usaha.

DI satu sisi, terdapat beberapa program yang dicadangkan Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, yaitu program pemberdayaan dan pengembangan. Hal ini dilakukan lantaran pandemi bukan alasan untuk UMKM tidak bekerja.

“Kita harus survive untuk bertahan hidup, kami melakukan pelatihan-pelatihan dan ada bantuan permodalan untuk pelaku usaha di Sultra, baik itu melalui Banpres maupun melalui Pemerintah Provinsi Sultra,” tambahnya.

Adapun bantuan tersebut, yakni bantuan sembako dan uang tunai untuk koperasi dan UMKM yang belum menerima bantuan dari Pemerintah Pusat, kementerian, provinsi, serta dinas terkait.

“Kemarin kami mencoba menyalurkan bantuan tapi karena pilkada maka itu ter-pending. Tapi untuk bantuan-bantuan yang sifatnya sembako dan sebagainya itu kami salurkan dengan total anggaran kurang lebih Rp 3 miliar pada pelaku-pelaku UMKM dalam bentuk beras, makanan dan lain-lain,” ujarnya. (C)

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.