Kisah SLB Tat Twam Asih Baubau di Tengah Pandemi

  • Bagikan
Sekolah Luar Biasa Tat Twam Asih di Kota Baubau. (Foto: Aisyah Welina/SULTRAKINI.COM)

SULTRAKINI.COM: BAUBAU – Sebanyak 68 orang siswa Sekolah Luar Biasa Tat Twam Asih di Baubau, Sulawesi Tenggara mulai melakukan pembelajaran tatap muka setelah hampir dua tahun lamanya belajar dari rumah.

Kepala SLB Tat Twam Asih, Muhammmad Iqbal, mengatakan selama masa pandemi Covid-19 pihaknya melakukan dua pola belajar, yaitu daring dan kunjungan guru ke masing-masing rumah siswa secara terjadwal. Dua skenario ini digunakan karena tidak semua siswa dapat menggunakan ponsel android. Seperti tunagrahita atau autis. Mereka sangat kesulitan untuk mengikuti pola tersebut.

“Kemudian ada juga yang bisa menggunakan handphone android tetapi tidak mempunyai kemampuan ekonomi. Kita di sini 80 persen muridnya ekonomi ke bawah,” jelasnya, Senin (20/9/2021).

Kata Iqbal, pola daring kurang efektif di sekolah yang dipimpinnya, sehingga pola ini hanya dimanfaatkan untuk membagikan informasi dan jadwal kunjungan belajar dari guru.

Klik gambar diatas untuk melihat jadwal tes

Memang, SLB tidak seperti sekolah pada umumnya. Butuh kesabaran dan ketekunan agar siswa bisa mendapatkan pembelajaran. Bahkan, belajar tatap muka pun–para guru harus ekstra tekun agar siswa mendapatkan pembelajaran yang layak.

Untuk itulah, kembalinya pembelajaran tatap muka membawa kesyukuran bagi pihak SLB Tat Twam Asih. Para guru tidak lagi berkunjung ke rumah siswa satu persatu. Namun tidak berhenti sekaligus. Pola ini tetap dilakukan khusus bagi siswa yang mengalami cacat fisik.

Baca:   Sejumlah Tuna Rungu di Mubar Dapat Pelatihan dan Bantuan

Mengingat pembelajaran tatap muka masih di tengah pandemi, guru di SLB Tat Twam Asih telah divaksinasi. Sementara siswa sekolah ini baru mencapai 10 persen dari total 68 orang siswa.

“Karena sebagian besar siswanya menurut pengakuan wali siswa sering mengalami kejang-kejang sejak kecil sehingga orang tua siswa belum mengizinkan anaknya,” terang Iqbal. (C)

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

  • Bagikan