ARF Sarankan Ali Mazi Tingkatkan Ekspor Nikel dan Penguatan Industri Sawit

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara, Abdul Rahman Farisi, menyarankan Gubernur Sultra, Ali Mazi meningkatkan ekspor melalui penguatan sektor industri nikel, kelapa sawit, perikanan, dan pertanian.

“Kuantitas eskpor yang meningkat, maka penawaran dolar menjadi meningkat sehingga akan mendorong rupiah kembali menguat. Cara strategis tingkatkan ekspor. Upaya jangka pendek ini efektif menahan pelemahan rupiah,” kata Abdul Rahman Farisi (ARF), Senin (11/9/2018).

Peluang ekspor Sultra sangat menjanjikan. Beberapa waktu lalu, Sultra mampu mengekspor perdana kepiting bakau ke Singapura langsung melalui Terminal Kargo Bandara Haluoleo (18/5/2018).

Pelaksana Tugas Wali kota Kendari, Sulkarnain juga membuka peluang pengusaha Sultra untuk memasarkan produknya ke luar negeri, misalnya produk potensial seperti jagung.

(Baca: Sulkarnain: Pupuk Pengusaha Kendari, Kembangkan Ekspor Sultra)

Ada juga produk pertanian yang telah dilepas Balai Karantina Pertanian Kendari sebagai penanggungjawab dalam lalu lintas produk pertanian , khususnya keamanan dan kesehatan produk di Pelabuhan Kendari New Port Agustus 2018. Sebanyak 100 ton cocoa butter telah diekspor ke Belanda secara langsung.

(Baca: Kendari Ekspor Langsung Komoditas Pertanian, Balai Karantina Lepas Cacao Butter ke Belanda)

Sultra berlahan berkontribusi menguatkan nilai ekspor. Terlebih rupiah yang sempat merosot baru-baru ini hingga hampir menyentuh Rp15.000.

Melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra, sektor jasa keuangan pun didorong membantu para pelaku usaha meningkatkan ekspor dengan cara mengeluarkan kebijakan proses perizinan ekspor lebih cepat dan murah.

Langkah OJK itu diarahkan untuk meningkatkan kredit dan pembiayaan di sektor produktif sehingga meningkatkan multiplier effect terhadap pertumbuhan sektor rill dan menciptakan lapangan kerja.

Peluang-peluang tersebut di atas diperlukan penguatan lebih dari peran Pemerintah Provinsi Sultra.

(Baca juga: AMAN Sinkronkan Program Prioritas dengan Pemprov Sultra, Intip Janji Politiknya)

Berkaca dari tahun 1998, menurut ARF, cadangan devisa negara saat ini mencapai 118 miliar US dolar, lebih kuat dibanding tahun 1998 yang hanya 23,61 miliar US dollar.

“Hal sama juga terjadi pada Net Capital Inflow atau investasi yang masuk ke Indonesia. Tahun 1998, NCI hanya sekitar 2,47 juta US dolar dan tahun 2018 mencapai 4,015 juta US dolar. Dari angka pertumbuhan ekonomi, tahun 1998 turun sampai minus 13,3 persen dan tahun 2018 berada diposisi 5,27 persen,” lanjutnya.

Laporan: La Ismeid

Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.