Kemajuan atau Kemunduran KNPI Sultra

Oleh M. Najib Husain (Pengurus Aspikom Pusat)

“Saya Datang Tidak Membawa Apa-Apa, Saya Hanya Datang Dengan Sepuluh Jari Tangan Saya, Tapi Saya Punya Idealisme, Dengan Itu Saya Bisa Berbuat” (Syahartijan)

Tulisan ini  saya mulai dengan kutipan dari Pesan penting di Halaman Pertama Disertasi dari  saudara saya,  teman kerja saya,  dan juga anak bimbingan S3 saya yang dua hari lalu mendahului saya. Al-Fatihah.

Kutipan di atas secara sadar mengawali tulisan ini untuk meyakinkan dan sekaligus perenungan betapa pemuda merupakan sosok yang kuat tetapi perlu motivasi, kelompok yang memiliki peran tetapi butuh arena. Kelompok yang menentukan masa depan tetapi perlu diberikan kesempatan dan kelompok potensial yang dapat apa saja namun perlu pengakuan. Sejarah telah mencatat betapa peran dan kiprah pemuda dalam melakukan perubahan peradaban, dan pencerahan sangatlah menentukan tidak terkecuali dalam kehidupan politik. Berdirinya Boedi Oetomo, Soempah Pemoeda, perjuangan membela kemerdekaan, sampai pada gerakan reformasi merupakan kerja politik idealisme pemuda. Sosok idelisme, sikap kritis yang dimiliki pemuda selalu risau terhadap kemapanan. Berpihak kepada yang terpinggirkan, pembela kaum miskin, ketidakadilan dan kaum tertindas. Tidak mengherankan apabila Bung Karno mengatakan “berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan dapat memindahkan gunung itu”. Artinya sebagai kelompok anomik dalam  struktur politik, pemuda memiliki kekuatan laten dan manifest yang patut dibangkitkan, diberikan ruang dan arena untuk berkiprah, mengasah kreatifitas dan inovasi bagi tumbuhnya generasi yang memiliki keadaran, kemampuan dan tanggungjawab bagi diri dan bangsanya.

Peran dan kiprah pemuda tidak saja ditujukan pada situasi anomalis, ketika negara dalam keadaan chaos, justru dalam keadaan normal, idealisme pemuda sangat diperlukan untuk mengawal setiap proses kehiduapan ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan kemanan. Khusus dibidang politik, sentuhan idealisme dan daya kritis pemuda sangatlah diperlukan utamanya dalam mengawal proses transisi demokrasi yang sedang kita laksanakan saat ini. Pilihan terhadap sistem demokrasi dalam menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, membutuhkan dukungan semua pihak untuk mengawal proses demokrasi agar dapat berjalan dan mempercepat pencapai tujuan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Proses demokrasi yang sedang kita laksanakan saat ini perlu dikawal, agar tidak terjadi stigma negatif terhadap demokrasi itu sendiri. Jangan sampai berkembang anggapan bahwa demokrasi justru menjadikan rakyat sangsara, harga-harga menjadi mahal, rakyat susah untuk mendapat penghidupan, kerusuhan terjadi dimana-mana, oleh karenanya lebih baik kembali ke masa otoriter seperti pada masa yang lalu. Stigma ini tentu akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan sistem demokrasi yang dianggap sebagai pilihan terbaik bagi kemaslahatan masyarakat.

Hajatan pemuda di Sulawesi Tenggara baru saja selesai. Sebuah hajatan yang mampu menyatukan 3 kelompok dalam KNPI di Sulawesi Tenggara, dan hasilnya  Ketua KNPI Sultra Terpilih  sudah kita ketahui bersama yaitu  saudara Alvin Aka Wijaya Putra (Anak Ali Mazi, Gubernur Propinsi Sulawesi Tenggara). Dalam sistem demokrasi tidak salah kalau yang terpilih anak atau cucu dari seorang tokoh atau pejabat atau bekas pejabat. Yang salah adalah kalau ada pikiran yang kemudian direalisasikan melalui rekayasa yang tidak benar untuk terpilihnya  seseorang karena dia termasuk trah dari seorang pejabat tanpa melalui mekinisme yang benar.

Untuk itu  saudara Alvin Aka Wijaya Putra tantangan ada cukup besar dan akan diuji mulai Dalam Penyusunan Pengurus karena jika salah langkah maka upaya senior KNPI untuk menyatukan 3 Gerbong dalam DPD I  KNPI Sultra akan sia-sia, jika ujian pertama anda sudah lewati maka kedepan, saya sebagai seorang pemerhati pemuda mengharapkan saudara ketua  harus mengembangkan dan membesarkan KNPI Sultra ini pada 5 hal yaitu, pertama Komitmen yang kuat, berketeguhan hati  dan konsistensi  memperjuangkan dan mewujudkan cita-cita bagi kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.Tidak terjebak pada sikap yang ambigu, dan memiliki keteguhan hati dan BUKAN “kutu loncat”. Kedua, Integritas, yakni  menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika, sehingga dapat dirasakan dan dilihat dari sikap dan perilaku yang santun dalam berorganisasi. Ketiga, Kompetensi, yakni kemampuan atau kualitas sumber daya manusia dari pengurus KNPI 2021-2025 yang menjadi modal dasar yang harus dikembangkan secara terus menerus. Keempat, Jaringan, meliputi dukungan sebanyak-banyaknya dari para pemuda di Sultra. Menjalin hubungan baik serta membina jaringan yang telah terbangun merupakan pekerjaan yang tidak boleh diabaikan dalam berkiprah. Kelima, Transparansi Keuangan, ini terakhir tapi terpenting karena ini ujian paling berat dan akan terukur oleh para pengurus anda.    

Sudah cukup pemuda sultra terjebak dalam konflik yang menyebabkan salah satu ruang aktualisasi diri pemuda yaitu Dunia Politik untuk menjadi Legislator Muda hilang dari catatan sejarah.  Dari data KPU Propinsi Sulawesi Tenggara  bahwa dari 595   Calon Anggota DPRD Propinsi pada pemilu 2019, calon anngota yang berumur 21-35 ada 158 orang dan  7 orang yang lolos,  calon anggota yang berumur 36-46 ada 175 orang dan yang lolos ada  14 orang, calon anggota yang berumur 47- 57 ada 182 orang dan yang lolos ada 18 orang, calon anggota yang berumur 58-68 ada 74 orang dan yang lolos ada  6 orang, dan yang berumur 68 keatas ada 6 orang dan tidak ada yang lolos. Kelihatan jelas bahwa Sultra kekurangan kader muda untuk menjadi legislator daerah, bgtu juga kalau kita lihat anggota Dewan di DPR RI hanya satu orang yang mewakili pemuda. Sangat memprihatinkan Sulawesi Tenggara yang punya banyak stok pemuda yang berkualitas tapi kenyataan tidak hadir dipanggung politik.  

 Ini menjadi tugas saudara Alvin Aka Wijaya Putra  sebagai ketua Terpilih DPD I  KNPI Sulawesi Tenggara, bagaimana memotivasi pemuda Sultra untuk berPartisipasi di dunia Politik baik Dalam Supra Struktur Politik Dan Infra Struktur Politik. Supra struktur politik, pemuda merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam sistem pemerintahan. Sebagai warga negara setiap pemuda harus memahami tentang hak dan kewajibannya sebagai warga Negara, termasuk melakukan bela Negara. Adapun, Infra struktur politik, pemuda dapat berkiprah dalam kegiatan partai politik, pada kelompok kepentingan, kelompok penekan maupun kelompok anomalis. Inilah arena politik yang dapat digunakan oleh pemuda dalam berpartisipasi. Selama ini Partisipasi Politik Pemuda kurang dalam hal Pemberian suara ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya, Tingkat partisipasi politik berupa kampanye menolak politik uang  kurang dilakukan oleh pemuda, dan Perhatian Besar dalam isu pemilu 2024 sangat kurang.

            Masa bakti KNPI Sultra sampai 2025, artinya  sangat strategis karena mendapatkan kesempatan untuk memposisikan diri dan berkontribusi besar  dalam pesta politik tahun 2024,  sebagai bagian dari komponen bangsa, pemuda tidak dapat melepaskan diri dan menghindar dari politik. Oleh karena hakekat manusia termasuk pemuda adalah zoon politicon atau mahluk politik. Keberadaan dan kiprah manusia termasuk pemuda merupakan bagian dari produk politik dan terlibat baik langsung maupun tidak langsung, nyata maupun tidak nyata dalam kehidupan politik, utamanya dalam menghadapi pemilu serentak 2024. Partipasi politik, saudara saudara Alvin Aka Wijaya Putra dan para pengurusnya   menjadi sangat penting dan strategis oleh karena:

  1. Pemuda sebagai agen perubahan harus dapat mengawal proses transisi demokrasi kearah yang lebih substantif yakni terlaksananya pemilu serentak 2024 secara free dan fair.
  2. Untuk mengawal proses tersebut, pemuda dapat berkiprah baik sebagai penyelenggara, peserta ataupun pengawas proses penyelenggaraan pemilu;
  3. Pemuda harus dapat tampil sebagai agen penjaga moral dan etika politik dalam proses demokrasi, artinya  pemilu serentak 2024  harus dapat berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku, sikap dan prilaku politik yang dijalankan harus menjunjung tinggi etika dan sopan santun politik sehingga tidak menerapkan praktik-praktik politik yang kotor, menghalalkan segala cara dan menggunakan cara-cara kekerasan  atau premanisme politik.
  4. Pemuda harus dapat tampil sebagai penjaga demokrasi; menghormati hak dan kewajiban orang lain, menghargai perbedaan pilihan dan tidak terjebak pada pragmatisme politik.

Akhirnya, usia bukanlah ukuran untuk menentukan kiprah, fungsi dan peran  serta  kedewasaan politik seseorang. Banyak pemuda yang memiliki kecakapan, kedewasaan dan kebijaksanaan politik yang melebihi orang tua. Tidak sedikit pula orang tua yang menunjukkan sikap politik yang kekanak-kanakan.  Oleh karena politik itu tidak hanya ilmu, tetapi seni untuk bernegara, berbangsa dan bermasyarakat, seni untuk mendapatkan, menjalankan dan mempertahankan kekuasaan maka dalam implementasinya  dibutuhkan  rasio, rasa, sensitifitas dan kehalusan jiwa untuk memainkannya dalam artian diperlukan kecerdasan intelegensia, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Inilah sesungguhnya esensi partisipasi politik. Saya tutup dengan kutipan dari  Swami Vivekananda di mengatakan kepada pemuda dan pemudi

“Bangunlah. Beranilah. Kuatlah. Pikul semua tanggungjawab di atas pundakmu. Ketahuilah, wahai saudaraku, engkau adalah pencipta nasibmu sendiri. Segala kekuatan dan dorongan yang engkau butuhkan ada di dalam dirimu sendiri. Maka dari itu, ciptakanlah hari depanmu” .

Selamat Bekerja DPD I KNPI Sultra 2021-2025 semoga ini awal dari kemajuan dan   jangan lagi ada perpecahan dan mari kita bersatu karena yang kekal hanya perubahan………. 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.